Senin, 18 November 2013

Greenpeace: APP Akhirnya Berkomitmen Melindungi Hutan Indonesia

Greenpeace menyambut baik komitmen Asia Pulp and Paper (APP) yang mengumumkan hari ini Selasa (5/2) tekad untuk menghentikan deforestasi sebagai upaya untuk menyelamatkan hutan Indonesia yang tersisa, setelah selama satu dekade mendapatkan tekanan dari publik dan melakukan sejumlah perundingan dengan Greenpeace.

APP, salah satu produsen kertas dan kemasan terbesar di dunia, telah mengumumkan Kebijakan Konservasi Hutan, yang jika ini benar-benar dilaksanakan, mampu meruntuhkan sejarah kontroversial kerusakan hutan yang sudah mereka lakukan. "Kami memuji APP atas komitmen baru mereka untuk mengakhiri deforestasi. Dan kami akan terus memantau perkembangannya," tutur Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Indonesia dalam siaran pers yang diterima GATRAnews. Menurut Bustar, jika APP sepenuhnya menerapkan kebijakan baru tersebut, maka ini akan menandai perubahan dramatis, setelah bertahun-tahun terlibat dalam deforestasi di Indonesia.

APP, anak perusahaan Grup Sinar Mas, adalah salah satu dari dua industri pulp dan kertas global di Indonesia yang produknya bergantung pada serat hutan hujan, APP menangani sejumlah merek-merk terkenal di seluruh dunia. Greenpeace juga telah menulis surat secara resmi kepada CEO APRIL asia (Asia Pacific Resources International), produsen terbesar kedua pulp dan kertas di Indonesia, dan menanyakan kapan perusahaannya akan membuat dan menerapkan komitmen serupa agar mengakhiri deforestasi.

Kebijakan konservasi hutan APP tersebut, menurut Bustar, antara lain mengakhiri ekspansi ke hutan alam, termasuk lahan gambut, pengelolaan praktek terbaik lahan gambut di lapangan untuk mengurangi dan menghindari emisi gas rumah kaca, menjalankan protokol baru untuk memastikan prinsip-prinsip Persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (padiatapa) /Free and Prior Informed Consent (FPIC) diterapkan pada seluruh perkebunan baru, dan menyelesaikan konflik sosial dengan komunitas yang terkena dampak akibat praktek-praktek terdahulu.

"Setelah menelaah secara mendalam, komitmen ini juga membuka ruang penyelesaian konflik-konflik sosial secara damai, di tengah meningkatnya tindakan kekerasan yang dipicu oleh konflik lahan antara masyarakat lokal dan perusahaan,” kata Longgena Ginting, Kepala Greenpeace Indonesia. 

Langkah yang ditempuh oleh APP ini merupakan hasil dari berbagai tekanan dari ornop Indonesia maupun internasional yang menentang peran mereka terhadap pembabatan hutan skala besar, termasuk kehidupan liar yang penting serta wilayah yang dihuni oleh komunitas lokal. Kampanye Greenpeace untuk merubah sektor industri pulp dan kertas, menurut investigasi yang dilakukan selama ini telah melihat pelanggaran yang dilakukan oleh APP dan sejumlah kampanye global yang mengekspos merk-merk global yang pasokan kertas dan kemasannya berasal dari APP. 

Sudah banyak merk-merk global yang telah memutus kontraknya dengan APP dan mengumumkan kebijakan untuk menghilangkan keterkaitan deforestasi dalam rantai pasokan mereka, hal ini juga didorong oleh datangnya berbagai tekanan publik yang disuarakan oleh Greenpeace. Lebih dari 100 perusahaan telah beraksi, termasuk Adidas, Kraft, Mattel, Hasbro, Nestlé, Carrefour, Staples dan Unilever.

Komitmen baru APP datang di saat waktu yang genting bagi kondisi hutan Indonesia. Dua tahun kebijakan moratorium yang telah dikeluarkan oleh Presiden Yudhoyono di tahun 2011 akan berakhir masanya di bulan Mei tahun ini. “Kami meminta pemerintah Indonesia agar memanfaatkan momentum APP ini untuk memperpanjang dan memperkuat capaian moratorium, dimulai dengan meninjau ulang konsesi hutan yang sudah ada. Mengingat kegentingannya, pemerintah harus memajukan penegakkan hukum kehutanan untuk membantu perusahaan APP menerapkan kebijakan konservasi mereka. Hanya aksi bersama dari pemerintah, industri dan masyarakat sipil yang mampu membuat gelombang perubahan dari kepunahan yang sedang mengancam Harimau Sumatera,” ujar Bustar.

APRIL Pelopori Bisnis Kehutanan

Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) menggulirkan dana investasi sebesar 7 juta dolar AS un-tuk mengelola areal restorasi ekosistem. Dana ituakan digulirkan untuk tiga tahun pertama sejak 2013 hingga 2015. Restorasi ekosistem merupakan salah satu model bisnis kehutanan baru di masa depan. Restorasi ekosistem dilakukan dengan memberikan satu konsesi kawasan hutan terdegradasi kepada investor yang akan menanami dengan tanaman asli lokal.

"Investor tidak boleh mengambil keuntungan dari hasil kayu hutan tersebut. Investor hanya boleh meng-ambil keuntungan dari hasil hutan non-kayu, seperti air, madu dan ekowisata," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, saat meresmikan program Restorasi Eko-sistem Hutan Gambut, di Jakarta, Selasa (7/5).
Menurut dia, dalam mekanisme perdagangan karbon, sertifikat penyerapan karbon bisa diperdagangkan. Namun pemegang izin usaha dilarang memanfaatkan pohon atau bagian dari pohon yang berada di dalam kawasan yang sedang direstorasi.
Dia mengatakan, pemerintah memberikan izin restorasi ekosistem kepada APRIL asia di areal hutan lindung rawa gambut di Semenanjung Kampar, Riau. "Investasi ini adalah investasi jangka panjang bisa 60 tahun, karena itu kriterianya pun tidak mudah karena perusahaan harus memiliki modal dan infrastruktur," kata Zulkifli.
Diketahui, APRIL asia merupakan induk usaha dari PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang juga perusahaan kelima yang memperoleh izin restorasi ekosistem. "Untuk memperoleh izin restorasi tidak mudah, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. APRIL adalah perusahaan yang memenuhi kriteria itu," tuturnya.
Menurut dia, sampai saat ini sudah banyak perusahaan yang mengajukan izin restorasi ekosistem, bahkan jumlahnya telah mencapai lebih daru 40 unit perusahaan dengan luas areal lahan yang bervariasi.
Namun Kemenhut telah menerapkan aturan baku yang sangat ketat demi keamanan dan kelangsungan ekosistem itu sendiri. Sampai saat ini baru lima perusahaan yang sudah mengantongi perizinan karena dianggap mampu.
"Kami harus hati-hati dalam memberikan izin karena tujuannya untuk mengembalikan keragaman hayati," katanya.

Izin restorasi ekosistem ini diberikan lewat anak usaha APRIL yakni, PT Gemilang Cipta Nusantara (CGN).

sumber

APRIL Kelola Restorasi Ekosistem di Riau

Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) gulirkan dana investasi 7 juta dolar AS untuk mengelola areal restorasi ekosistem. Dana ini akan digulirkan untuk tiga tahun pertama sejak 2013-2015.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah memberikan ijin restorasi ekosistem kepada APRIL asia di areal hutan lindung rawa gambut di Semenanjung Kampar, Riau. Dengan demikian, APRIL asia, induk usaha PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), menjadi perusahaan ke lima yang memperoleh ijin restorasi ekosistem. “Untuk memperoleh ijin restorasi tidak mudah, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. APRIL adalah perusahaan yang memenuhi kriteria itu,” kata Zulkifli, Selasa (7/5).
Menurut menhut, banyak perusahaan yang mengajukan ijin restorasi ekosistem. Sekitar 40 unit perusahaan dengan luas areal lahan yang bervariasi mengajukan ijin restorasi ekosistem. Namun, kata dia, baru lima perusahaan yang sudah mengantongi izinnya. “Kami harus hati-hati dalam memberikan ijin karena tujuannya adalah untuk mengembalikan keragaman hayati,” jelas Zulkifli.
Ijin restorasi ekosistem ini diberikan lewat anak usaha APRIL asia yakni, PT Gemilang Cipta Nusantara (CGN). Selain CGN beberapa perusahaan yang juga sudah mendapatkan ijin restorasi ekosistem diantaranya adalah PT Restorasi Ekosistem Indonesia di Jambi dan Sumatera Selatan, dan PT Rehabilitasi Habitat Orang Utan Indonesia di Kalimantan Timur.
GCN akan menjadi bagian dari program Restorasi Ekosistem Riau (RER). Program ini bertujuan memulihkan dan melindungi 20.265 hektar hutan gambut sebagai hutan lindung. Sedangkan luas areal hutan gambut di semenanjung Kampar mencapai 671.000 hektar.
“Kami akan melibatkan masyarakat lokal untuk melakukan restorasi dan melindungi area konservasi,” kata Anthony Greer, General Manager RER. RER sendiri melakukan berbagai kegiatan untuk perlindungan hutan gambut melalui rencana empat tahapan yang meliputi Melindungi, Mengkaji, Merestorasi dan Mengelola keanegaraman hayati hutan, tanah, tumbuhan dan satwa.
Menhut menambahkan restorasi ekosistem menjadi salah satu model bisnis kehutanan baru di masa depan. Restorasi ekosistem dilakukan dengan memberikan satu konsesi satu kawasan hutan terdegradasi kepada investor yang akan menanami dengan tanaman asli lokal. kemudian, investor mengambil keuntungan dari hasil hutan bukan kayu seperti air, madu dan ekowisata. Bahkan, dalam mekanisme perdagangan karbon, sertifikat penyerapan karbon bisa diperdagangkan. Pemegang izin usaha ini dilarang memanfaatkan pohon atau bagian dari pohon yang berada di dalam kawasan yang sedang direstorasi.
“Investasi ini adalah investasi jangka panjang makanya kriterianya pun tidak mudah karena perusahaan harus memiliki modal. Dan infrastruktur,” kata Zulkifli. Masa ijin restorasi ekosistem ini sendiri 60 tahun.

Restorasi Ekosistem Hutan Gambut, APRIL Investasi 7 Juta Dolar AS

KBRN, Jakarta: Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) akan mengalokasikan dana sebesar US$ 7 juta untuk menjadikan hutan gambut di Semenanjung Kampar, Riau, menjadi kawasan hutan lindung kelas dunia.
Dana tersebut akan digulirkan untuk memulihkan dan melindungi 20.265 hektar huta gambut selama tiga tahun pertama sejak tahun 2013 hingga 2015.
Kawasan hutan gambut yang sebelumnya telah rusak akibat aktivitas pembalakan liar di masa lalu itu akan direstorasi oleh Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang pada awal tahun lalu digagas oleh APRIL asia.  
General Manager Restorasi Ekosistem Riau (RER), Anthony Greer, mengatakan, untuk menjadikan kawasan itu sebagai hutan lindung kelas dunia, selain penyiapan dana US$ 7 juta, pihaknya juga akan didukung oleh berbagai sumber daya penuh waktu serta para ahli dari berbagai mitra.
“RER akan mendapat arahan serta dukungan dari sebuah dewan penasehat yang terdiri dari para ahli, baik dari dalam negeri maupun internasional,” ungkap Greer, usai diresmikannya program restorasi ekosistem hutan gambut di Semenanjung Kampar oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Selasa (7/5/2013) di Jakarta.
Dalam merestorasi kawasan tersebut, lanjut Anthony Greer, pihakya akan melibatkan masyarakat lokal sekitar untuk membangun pemahaman bersama tentang prioritas-prioritas konservasi di daerah tersebut.
“RER akan menciptakan lapangan kerja serta skema pengembangan kapasitas yang melibatkan partisipasi langsung dari komunitas sekeliling terdekat,” ungkapnya.
“Kami menargetkan untuk merestorasi dan melindungi area konservasi melalui upaya-upaya pemulihan dan perlindungan yang dijalankan secara bersama antara RER dan masyarakat sekitar.
Ditambahkan Greer, RER akan membuat cadangan hutan gambut melalui rencana empat tahapan, yakni melindungi, mengkaji, merestorasi dan mengelola keanekaragaman hayati hutan, tanah, tumbuhan satwa dan nilai-nilai air di kawasan tersebut.

sumber

Kamis, 07 November 2013

Menjadi Industri Pulp dan Kertas Global

Okezone.com - Tanaman accra (sejenis akasia) tumbuh subur di daerah Kalimantan Barat, sekira sejam perjalanan dari Pontianak.

Lantaran tumbuh baik, dalam lima tahun saja tanaman itu sudah bisa mulai dipanen untuk menjadi bahan baku industri bubur kertas (pulp). Di Kalimantan Barat, tanaman yang dibudidayakan dalam Hutan Tanaman Industri (HTI) tersebut pada akhirnya menjadi industri yang berkembang untuk menopang kebutuhan pabrik bubur kertas yang saat ini terkonsentrasi di Pulau Sumatera.

Perusahaan HTI lain yang berkembang di Kabupaten Sanggau dan Sintang, Kalimantan Barat adalah Finantara yang semula merupakan lahan pengembangan perusahaan patungan dari Finlandia. Tanaman dari Finantara tersebut, yang umumnya berupa eucalyptus, kemudian juga menjadi sumber yang penting bagi pengembangan industri bubur kertas tersebut. Berbagai tanaman dari HTI tersebut, baik dari Sumatera, Kalimantan, maupun pulau-pulau lain, pada akhirnya menjadi bagian dari urat nadi industri bubur kertas di Tanah Air.

Dengan umur panen yang pendek (dibandingkan dengan daerah Skandinavia yang memerlukan waktu untuk panen sampai 40 tahun), HTI tersebut mampu menyediakan bahan baku industri secara berkelanjutan. Industri bubur kertas, yang merupakan industri sangat padat modal, berkembang di beberapa tempat di Indonesia. Basis utama yang sangat kuat yakni di Provinsi Riau. Di sana terdapat pabrik bubur kertas Indah Kiat yang merupakan bagian dari grup besar Sinar Mas serta Riau Andalan yang menjadi bagian dari grup Raja Garuda Mas.

Sementara itu, Tanjung Enim Lestari merupakan pabrik bubur kertas yang dewasa ini dimiliki oleh Marubeni yang beroperasi di Sumatera Selatan. Daerah lain yang memiliki pabrik bubur kertas adalah Kalimantan Timur. Indah Kiat yang tergabung dalam Asia Pulp and Paper merupakan industri pulp dan kertas yang terbesar di Indonesia. Dari pabrik di Perawangan Riau tersebut, bubur kertas kemudian dijadikan kertas melalui berbagai pabrik, baik di Riau maupun pabrik Indah Kiat, Tjiwi Kimia, Pindo Deli, dan Lontar Papyrus yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia.

Sebagian besar bubur kertas tersebut juga diekspor ke berbagai negara, terutama ke China, di mana perusahaan tersebut juga pemain yang sangat besar di negara tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada Riau Andalan yang merupakan bagian dari APRIL Asia (Asia Pacific Resources International Limited). Pabrik pulpnya yang berkapasitas dua juta ton dan pabrik kertasnya yang berkapasitas 800 ribu ton merupakan pemain yang sangat penting di Indonesia maupun pasar global.

Dengan permintaan pulp yang tinggi di pasar global, terutama untuk kebutuhan industri kertas tulis, kertas tisu, kertas karton untuk kemasan, dan sebagainya, salah satu raksasa dari industri pulp Indonesia akan menambah pabrik baru di daerah Sumatera Selatan. Pabrik tersebut akan menggunakan kapasitas dua juta ton sehingga kapasitas industri pulp di Indonesia akan meningkat sangat besar. Perkembangan HTI di berbagai tempat tampaknya seiring dengan peningkatan kapasitas industri bubur kertas.

Di Indonesia masih banyak lagi industri kertas yang terus berkembang sejalan dengan permintaan yang sangat besar dari industri makanan-minuman, tekstil, elektronika, maupun industri farmasi. Berbagai industri tersebut sangat membutuhkan kertas karton untuk kemasan produk mereka yang dihasilkan oleh industri Corrugated Box. Dari berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan, industri ini berkembang pesat sejalan dengan pertumbuhan berbagai industri penggunanya tadi.

Selain dihasilkan para raksasa tersebut, beberapa industri kertas karton di Indonesia juga beroperasi menggunakan kertas dan karton bekas yang dikumpulkan dari Indonesia maupun diimpor dari negara lain. Ini berarti bisnis recycling kertas tersebut berkembang secara luar biasa di Indonesia. Dari salah satu pabrik yang saya kunjungi di daerah Cengkareng, perusahaan tersebut memanfaatkan limbah karton bekas pakai yang memenuhi halaman pabrik.

Karton bekas itu kemudian diolah menjadi bubur kembali. Dalam proses tersebut tentu ditambahkan bahan-bahan lain misalnya bahan kertas dengan serat panjang sehingga kertas karton yang dihasilkan dari kertas bekas tersebut tetap akan memiliki kualitas tinggi. Kebetulan pabrik tersebut memiliki unit yang menghasilkan kertas Kraft dan ada juga yang menghasilkan kertas Duplex. Gulungan kertas karton yang dihasilkan perusahaan tersebut sebagian digunakan sendiri untuk menghasilkan kotak-kotak kemasan karton yang dewasa ini permintaannya sangat tinggi.

Sebagian besar lainnya juga dipakai untuk memasok pabrik-pabrik karton kemasan yang banyak beroperasi di sekitar Kota Jakarta maupun daerah lainnya. Jika kita melihat pertumbuhan industri elektronika sebesar lebih dari 20 persen, industri produk konsumer seperti Unilever, Indofood, dan Wings juga tumbuh tinggi, serta-merta permintaan kemasan karton bagi produk mereka juga meningkat tinggi. Ini mengakibatkan berbagai perusahaan corrugated box tersebut harus memperluas usahanya secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dengan melihat gambaran semacam itu, merupakan suatu hal yang aneh bahwa industri kertas, pulp, dan barang cetakan di Indonesia dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan pada 2012 maupun pada kuartal I-2013. Beberapa raksasa kertas tersebut masih terus berekspansi, termasuk rencana penambahan pabrik pulp baru, karena melihat kebutuhan kertas dan pulp global yang terus meningkat. Demikian juga dengan berbagai perusahaan kertas lebih kecil yang banyak beroperasi di Jawa dengan memanfaatkan limbah kertas yang ada juga berekspansi terus-menerus.

Dalam suatu gathering dengan beberapa pabrik karton kemasan saat Hari Raya Imlek yang lalu, saya mencoba menegaskan sekali lagi kepada mereka mengenai perkembangan industri tersebut. Secara serempak mereka mengatakan pertumbuhan mereka sangat tinggi karena permintaan yang terus mengalir bagi produk mereka. Rasanya Kementerian Perindustrian dan BPS perlu meninjau kembali keseluruhan industri untuk memberikan gambaran yang lebih riil apa yang saat ini terjadi.

Saya meyakini, industri bubur kertas dan industri kertas di Indonesia dewasa bukan hanya kuat di pasar domestik, melainkan juga sudah menjadi industri yang sangat disegani di pasar global. Salah satu pemainnya bahkan sudah menjadi pemain utama dalam industri kertas global tersebut.

sumber

April Asia - Salah Satu Produsen Kertas Terbesar Di Dunia


Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) merupakan produsen utama bubur kertas terbesar di kawasan Asia dan mungkin tidak hanya kebetulan semata jika perusahaan kertas sebesar APRIL memiliki lahan produksi yang berpusat di Kabupaten Kerinci, Provinsi Riau, Sumatra, Indonesia. Ya, betul sekali. APRIL merupakan salah satu perusahaan kertas terbesar di dunia yang berpusat di Indonesia. Itu berarti apa yang diproduksi APRIL merupakan hasil dari bumi pertiwi kita Indonesia. 

Kebanggaan Indonesia

Tidak dapat diragukan lagi jika Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah mulai dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui seperti hutan, air, dan energi matahari sampai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti barang tambang dan lain sebagainya. Nah, yang digunakan APRIL Asia sebagai bahan baku pembuatan kertas dan juga serat tentu saja berasal dari kayu yang merupakan satu hasil hutan yang paling bernilai. Namun APRIL sendiri memiliki komitmen jika mereka tidak akan merusak kelestarian alam hanya untuk mencari keuntungan pribadi. Untuk itu APRIL Asia membuka lahan konservasi sendiri dimana mereka mengembangkan beberapa jenis pohon yang baik untuk bahan baku pembuatan kertas.

Salah Satu Yang Terbesar di Dunia

Sumatra dikenal sebagai kawasan hutan hujan tropis yang banyak menghasilkan jenis-jenis pohon berkualitas tinggi untuk dijadikan bahan baku industri. Mungkin karena itulah APRIL Asia memusatkan kegiatan mereka di Sumatra dan akhirnya mengantar mereka menjadi salah satu produsen serat dan juga bubur kertas terbesar di seluruh dunia. Salah satu produk ternama mereka adalah PaperOne.
Dan tentu saja masih banyak lagi produk APRIL yang tersebar luas di seluruh pelosok dunia. Untuk di Asia sendiri, pasar utama APRIL Asia adalah Cina yang kemudian diikuti oleh Korea, dan Indonesia.